
Kalau kau tanya,
kenapa tak dibuka lagi hati itu ?
Matanya pasti berkedip-kedip, menahan resah isak didada
Terlalu mengada-ada , terkoyak, terhimpit , menghindar diri , berlebihan atau malah bertekuk lutut ? ,…kautanya ?
Matanya pasti berkedip-kedip, menahan resah isak didada
Terlalu mengada-ada , terkoyak, terhimpit , menghindar diri , berlebihan atau malah bertekuk lutut ? ,…kautanya ?
Kukatakan sahabat ,
biarkanlah ranting yang patah ini bersenandung dengan hatinya yang rapuh dan
lara
Ijinkanlah dia merenungi semua dikeheningan kalbunya
Ijinkanlah dia merenungi semua dikeheningan kalbunya
Benar , cintanya sudah
terlanjur bersatu dengan derai air mata
Bertabur getar mempesona namun syahdu
Tiba-tiba ,… ups , dia terpeleset jatuh dan terhempas pedih
Dan dia betapa sulit melupakan semua itu ?
Bertabur getar mempesona namun syahdu
Tiba-tiba ,… ups , dia terpeleset jatuh dan terhempas pedih
Dan dia betapa sulit melupakan semua itu ?
Katanya konon , kesepian
itu merupakan pelengkap dari cinta ?
Dan benarkah kepedihan akan membuktikan artinya cinta ?
Dan benarkah kepedihan akan membuktikan artinya cinta ?
Tetapi setiap saat
mata itu berkaca-kaca
Selalu dia tergoda menatap bayangan dan lambaianmu
Selalu dia tergoda menatap bayangan dan lambaianmu
Tidak ingin jatuh
cinta , kautanya ? ….dan dia mengangguk
Dibisiknya dengan lirih , ya , betul , karena dia tidak ingin bersedih lagi
Pengecutkah dia ? , ah , dia tertunduk
Dibisiknya dengan lirih , ya , betul , karena dia tidak ingin bersedih lagi
Pengecutkah dia ? , ah , dia tertunduk
Jadi maafkanlah dia
sahabat, biarlah hati itu menata langkahnya sendiri
Perkenankanlah dia bertenang diri dan memilih persahabatan dunia maya ini menjadi jabat hatinya
Dari nurani ini , setulus terima kasih bagi dirimu , sahabat
Dihelanya nafas dan dia memandang merentang jauh
Perkenankanlah dia bertenang diri dan memilih persahabatan dunia maya ini menjadi jabat hatinya
Dari nurani ini , setulus terima kasih bagi dirimu , sahabat
Dihelanya nafas dan dia memandang merentang jauh
Ketika dia menyapa
bukit , perasaan sedih tetap mencengkam diri
Dan dia tersedu dalam hati
Bahkan bukannya tanpa luka didalam jiwa, jika ditinggalkan keindahan nuansa ini
Dan dia tersedu dalam hati
Bahkan bukannya tanpa luka didalam jiwa, jika ditinggalkan keindahan nuansa ini
Berkepanjangan
hari-hari indah yang dihayati diantara relung dindingnya nan apik
Terlampau banyak kepingan jiwanya berserakan disepanjang jalan-jalan itu
Dan tak terhitung buah kerinduannya berlari-larian diantara bukit-bukitnya nan molek
Rasanya tak kuasa dia memisahkan diri dari semua itu.
Terlampau banyak kepingan jiwanya berserakan disepanjang jalan-jalan itu
Dan tak terhitung buah kerinduannya berlari-larian diantara bukit-bukitnya nan molek
Rasanya tak kuasa dia memisahkan diri dari semua itu.
Sekali lagi dipandangnya
kearah laut
Dan kau , samudera luas , yang menghimbau segala , agar datang kepadanya
Sudah siap dia berangkat dan gairahnya mekar berkembang bagai layar terpasang , menantang angin
Sejenak dihirupnya nafas , dan sesayup pandang matanya membelai bukit
Dan kau , samudera luas , yang menghimbau segala , agar datang kepadanya
Sudah siap dia berangkat dan gairahnya mekar berkembang bagai layar terpasang , menantang angin
Sejenak dihirupnya nafas , dan sesayup pandang matanya membelai bukit
Benar , bukan sebuah
benda yang akan ditinggalkan
Bukan pula sebuah kenangan manis yang harus dilupakan
Tetapi segumpal hati lembut yang penuh perasaan
Bukan pula sebuah kenangan manis yang harus dilupakan
Tetapi segumpal hati lembut yang penuh perasaan
Ah , hampir dia tergiur
membawa serta segala yang ada
Tetapi bagaimana bisa ?
Tetapi bagaimana bisa ?
Yang lebay jelang renung
diri
di-sebelas-enam-duapuluh duabelas
di-sebelas-enam-duapuluh duabelas

Tidak ada komentar:
Posting Komentar