Bersama Berbahagia

Rabu, 07 November 2012

Yang Melangkah Diantara Hati



Belaian sayang. Gambar:92maud.blogspot.com

Kalau kau tanya, kenapa tak dibuka lagi hati itu ?
Matanya pasti berkedip-kedip, menahan resah isak didada
Terlalu mengada-ada , terkoyak, terhimpit , menghindar diri , berlebihan atau malah bertekuk lutut ? ,…kautanya ?
Kukatakan sahabat , biarkanlah ranting yang patah ini bersenandung dengan hatinya yang rapuh dan lara
Ijinkanlah dia merenungi semua dikeheningan kalbunya
Benar , cintanya sudah terlanjur bersatu dengan derai air mata
Bertabur getar mempesona namun syahdu
Tiba-tiba ,… ups , dia terpeleset jatuh dan terhempas pedih
Dan dia betapa sulit melupakan semua itu ?
Katanya konon , kesepian itu merupakan pelengkap dari cinta ?
Dan benarkah kepedihan akan membuktikan artinya cinta ?
Tetapi setiap saat mata itu berkaca-kaca
Selalu dia tergoda menatap bayangan dan lambaianmu
Tidak ingin jatuh cinta , kautanya ? ….dan dia mengangguk
Dibisiknya dengan lirih , ya , betul , karena dia tidak ingin bersedih lagi
Pengecutkah dia ? , ah , dia tertunduk
Jadi maafkanlah dia sahabat, biarlah hati itu menata langkahnya sendiri
Perkenankanlah dia bertenang diri dan memilih persahabatan dunia maya ini menjadi jabat hatinya
Dari nurani ini , setulus terima kasih bagi dirimu , sahabat
Dihelanya nafas dan dia memandang merentang jauh
Ketika dia menyapa bukit , perasaan sedih tetap mencengkam diri
Dan dia tersedu dalam hati
Bahkan bukannya tanpa luka didalam jiwa, jika ditinggalkan keindahan nuansa ini
Berkepanjangan hari-hari indah yang dihayati diantara relung dindingnya nan apik
Terlampau banyak kepingan jiwanya berserakan disepanjang jalan-jalan itu
Dan tak terhitung buah kerinduannya berlari-larian diantara bukit-bukitnya nan molek
Rasanya tak kuasa dia memisahkan diri dari semua itu.
Sekali lagi dipandangnya kearah laut
Dan kau , samudera luas , yang menghimbau segala , agar datang kepadanya
Sudah siap dia berangkat dan gairahnya mekar berkembang bagai layar terpasang , menantang angin
Sejenak dihirupnya nafas , dan sesayup pandang matanya membelai bukit
Benar , bukan sebuah benda yang akan ditinggalkan
Bukan pula sebuah kenangan manis yang harus dilupakan
Tetapi segumpal hati lembut yang penuh perasaan
Ah , hampir dia tergiur membawa serta segala yang ada
Tetapi bagaimana bisa ?
Yang lebay jelang renung diri
di-sebelas-enam-duapuluh duabelas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar